Back to Blog

Miftahul Tamamy

“Sosok Santri Millenial yang Humanis”

Mengenal sosok Miftahul Tamamy, sepintas terbayang akan sosok muda, cerdas, energik, humanis, tenang, kalem, dan menyejukkan.

Miftahul Tamamy, pria kelahiran Serang, 02 Juni 1992 adalah Calon Wakil Bupati Pandeglang 2020.

Sebelum menjadi politisi, ia dikenal sebagai seorang pendidik, dilahirkan dari keluarga birokrat dan pendidik, Imat disibukkan dengan beragam aktivitas mengajar.

Ayahnya, Dr. KH. Bazari Syam adalah seorang birokrat handal yang telah mengarungi berbagai macam pengalaman birokrasi dari titik kegagalan, melalui kegigihannya kini H. Bazari Syam menjadi Kepala Kanwil Kemenag Banten, birokrat yang prestasinya diperhitungkan di Indonesia, dan saat ini

Bazari Syam pun dipercaya oleh masyarakat menjadi Ketua Yayasan Assalamiyah.

Ibunya, Hj. Yayah Sa’diyah, S.Pd.i adalah seorang yang mengabdikan dirinya untuk dunia pendidikan dan sosial. Selama 30 Tahun menjadi ASN yang bertugas di Madrasah Ibtidaiyah di Serang. Saat ini, Ibu Hj. Yayah Sa’diyah mengabdikan diri pada kegiatan keagamaan, seperti aktif di berbagai pengajian dan yayasan amal di daerah Serang dan Pandeglang.

Miftahul Tamamy selalu berterima kasih atas kasih sayang dan tempaan dari kedua orang tua yang kini menjadikan dia menjadi seorang pemuda yang memiliki semangat dan fighting spirit yang tinggi terhadap berbagai masalah kehidupan.

Miftahul Tamamy sebagai pemuda selalu memiliki keinginan untuk aktif dan berkontribusi, dia percaya bahwa pemuda harus “push your limit!”

Hal ini dibuktikan sejak sekolah, Miftahul Tamamy aktif dalam kegiatan olahraga basket, tapak suci, dan marching band mewakili sekolahnya Madrasah Aliyah Daarussadah. Lulus MA, Miftahul Tamamy mengejar pendidikan D3 jurusan Akuntansi di Untirta, lalu sarjana di STAI Assalamiyah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah, yang kemudian dilanjutkan dengan pendidikan Magister Manajemen di kampus Latansa mashiro

Selama kuliahpun, Miftahul Tamamy terus berusaha mengembangkan potensi diri dengan merintis usaha dibidang percetakan diberi nama Percetakan Miftah Mandiri.

Setelah menyelesaikan pendidikan S2, Miftahul Tamamy tidak memilih untuk daftar di kantor kerja seperti teman sejawat lainnya, dia memilih menjadi pengusaha dengan harapan dapat membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi keluarga dan orang banyak. Miftahul Tamamy memilih fokus dalam usaha percetakannya, dan juga sekaligus mengembangkam unit usaha baru di Bidang percetakan dan periklanan karena melihat adanya potensi pasar besar kala itu.

Usaha yang dirintisnya menuai sukses setelah mendapat kepercayaan menjadi Konsultan percetakan dari berbagai perusahaan percetakan besar nasional.

Dari kesuksesannya ini Miftahul Tamamy sadar terdapat sosok istri, Hj. Uswatun Khasanah M.Pd yang sangat berpengaruh melalui kasih sayang dan doanya untuk setiap langkah yang diambil Imat. Pasangan yang telah saling mengenal sejak di bangku Madrasah Aliyah ini telah memiliki 1 orang putri.

Di masyarakat, Imat dikenal sebagai sosok pemuda berprestasi yang aktif dalam berbagai organisasi, Imat kini dipercaya sebagai Bendahara PC Ansor Kabupaten Serang periode 2019-2021.

Di Ansor, Imat mengarahkan jajaran pengurus untuk menciptakan program pengembangan pemuda Banten, karena dia sadar terdapat amanah besar Dimana Ansor mewadahi sekitar organisasi kepemudaan Banten yang tersebar di berbagai sekolah, universitas, ormas, LSM, dsb.

Imat percaya bahwa berorganisasi memberi pengalaman dan pelajaran berharga dalam melangkah ketahap kehidupan yang lebih tinggi.

Selain memiliki reputasi dalam karir pertemanan dan politik yang impresif, Imat memiliki kemampuan manajerial yang sangat baik terutama dalam beberapa aspek: decisive leadership, entrepreneurial, team building, dan reformist.

Imat adalah sosok pemimpin muda yang dekat dengan masyarakat. Hampir setiap waktu, bersilaturahmi mengunjungi masyarakat di Pandeglang.

Bahkan, dia kerap membantu dan menyerap aspirasi publik dengan mengunjungi daerah pelosok dan pedalaman yang terkadang hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Motivasi sosial yang tinggi ini tentu tak lepas dari jiwa berorganisasi yang kuat dalam dirinya, hingga menuntunnya terjun ke dunia politik. Apalagi, segudang pengalaman di organisasi kepemudaan yang semakin menambah keyakinan bahwa politik adalah jalan hidupnya.

Itulah sejatinya mengapa anak muda Pandeglang perlu mengingat dan memahami kiprahnya yang dengan daya upaya mulia memperjuangkan hak-hak daerah, disamping konsistensinya bergelut dan malang melintang dalam organisasi kepemudaan.

Dalam “Organisasi Kepemudaan”, Imat terlibat aktif membesarkan beberapa Organisasi Kepemudaan, terkhusus KNPI. Disamping itu, “jelajah” Pengalaman Organisasi Imat, antara lain: PMII STAI Assalamiyah, PC PMII Kabupaten Serang, PMII Provinsi Banten, ISNU, dan Ansor Kabupaten Serang

Ini “mungkin” dari “jelajah” atau “tempaan- tempaan” dalam berorganisasi Imat, yang membuka jalan dirinya masuk ke peta politik. Namun, ia punya prinsip yang selalu jadi pegangan yakni selalu terlibat aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan.

Imat juga menulis beberapa publikasi yang sebagian besar dilakukan berdasarkan riset dan kiprah lapangannya.

Sosok Millenial yang Humanis

Imat punya gaya yang berbeda dengan para pendahulunya. Imat adalah sosok millenial ramah, murah senyum (sumriah), rendah hati, santun, dan tak mudah emosi.

Imat adalah salah seorang sosok santri millenial yang bisa ditemui kapan saja. Imat sosok humanis yang selalu memanusiakan manusia. Dia tak sulit ditemui, baik di kantor mapun di rumah. Tak ada jalur birokrasi yang rumit bila bertemu dengan Imat.

Selain itu, Imat juga tak pernah memandang orang dari sisi usia. Maka tak heran, kawan diskusinya sangat merasa nyaman bila bertemu dan berdialog dengan sosok muda ini. Imat juga begitu antusias mendengar informasi atau wejangan dari para orang tua, gagasan maupun keluh kesah anak- anak muda. Dan Imat selalu membantu dengan maksimal.

Bagi Imat, prinsip menjadi seseorang bukan “sesuatu” yang “serem, sangar atau menakutkan”, tapi harus punya sisi keramahan, punya naluri yang merakyat karena pada hakekatnya pejabat publik itu tidak boleh mengambil jarak dengan rakyat, harus humanis tapi disatu sisi tetap profesional.

Bagi Imat, prinsip nilai-nilai leluhur Pandeglang yang saling menghormati, menghargai, tidak suka mengarang-ngarang kejelekan orang lain adalah

bagian dari nilai-nilai demokrasi yang harus terus dikembangkan di Pandeglang.

Imat juga berprinsip bahwa pemimpin itu harus menjadi teladan. Jadi, kalau pemimpin yang hobinya marah itu bukan pemimpin.

Imat adalah sosok yang murah senyum. Seperti kita ketahui, senyum itu tanda pemimpin yang bersahabat dan selalu terbuka untuk dikritik. Selain itu, senyum merupakan pertanda pemimpin yang selalu membuka ruang partisipasi bagi rakyatnya. Bukan pemimpin yang suka menekan rakyatnya, refresif, intimidatif, apalagi menakut-nakuti rakyat dan bawahannya saat berkuasa. Pemimpin yang senyum selalu mengembangkan demokrasi yang baik, bukan demokrasi yang tidak saling menghargai dan mengedepankan kearifan lokal.

Pria yang sangat mencintai keluarganya ini, menekankan aspek penting inovasi dan menempatkan masyarakat sebagai agen untuk berpartisipasi dalam setiap kebijakan yang dikeluarkannya. Maka, tak heran apabila kehadiran dan juga karya nyatanya selalu dinantikan ditengah masyarakat Pandeglang.

Seperti diketahui, Imat saat ini berusia 28 tahun. Imat sudah menjadi sosok pemimpin millenial yang menjadi harapan baru bagi masyarakat Pandeglang.

Sosok muda biasanya akan cenderung lebih peka, mau mendengar dan dekat dengan rakyat. Terutama mereka yang mengalami keterbelakangan ekonomi.

Dengan demikian, setiap pembangunan akan berlandaskan pada kedekatan terhadap rakyat dan jika berbicara program kerja itu semua bisa dipikirkan sesuai dengan kebutuhan.

Sosok Imat menjadi harapan masyarakat Pandeglang, hadirnya sebagai pemimpin baru, dengan harapan baru Pandeglang lebih humanis dan sejahtera.

Sosok Imat menjadi dambaan masyarakat Pandeglang, hadirnya bisa merangkul dan jangan sampai masyarakat kecil termaginalkan karena kebijakan pemerintahnya. Pandeglang membutuhkan pemimpin yang mampu dekat dengan rakyat kecil dan mendengar bahkan merealisasikan suara dari warganya.

Imat harus terus banyak belajar dan bergerilya untuk mewujudkan program kepemimpinannya yang realistis, solutif, dan konkret guna menjawab problematika masyarakat Pandeglang.

Sanggupkah Imat menerjemahkan harapan besar masyarakat Pandeglang tersebut? Untuk menuju Bupati Baru, Pandeglang Maju? Kita tunggu!!

Share this post

Back to Blog